Saturday, June 5, 2010

Refleksi Budaya Majalengka

Budaya seperti yang telah dipaparkan di posting sebelumnya yang berjudul Membangun Budaya Bangsa, apabila kita lihat sekitar kita pada saat ini maka kita dapat menilai sejauhmana nilai-milai luhur penerapan, kecintaan, dan kekuatan budaya lokal dalam menahan budaya negatif yang datang dari luar. Pungli, Korupsi, Kolusi, Nepotisme, Mencontek, Premanisme, Kerusuhan, Malas, Santai seolah sudah menjadi budaya baru bahkan banyak orang yang lebih mengenal budaya lain daripada budaya daerahnya sendiri. Coba saja lontarkan pertanyaan-pertanyaan berikut :
1. Tahukan Sejarah Terbentuknya Kabupaten Majalengka?
2. Tahukah Sejarah Kerajaan dan raja-raja di Majalengka?
3. Sebutkan daerah-daerah tujuan wisata (Sejarah dan Alam) di Majalengka?
4. Sebutkan Nama-nama Kesenian, Makanan dan Kerajinan Khas Majalengka?
5. Sebutkan Nama-nama Tokoh terkenal di Majalengka?


Maka orang yang anda tanya akan kebingungan, bahkan mungkin anda pun bingung. Keadaan tersebut cukup menggambarkan betapa miskinnya pengetahuan kita terhadap tempat kelahiran Kita Sendiri, betapa kecilnya motivasi untuk menggali pengetahuan akan daerahnya sendiri, betapa sulitnya mencari tahu tentang daerahnya sendiri.
14 Mei 2010 (Ma'af Kalau Salah Tulis Tanggal) pada Kuliah Umum yang disampaikan oleh Bupati Majalengka di Auditorium Isora resort UPI, dalam ceramahnya diantaranya Beliau memaparkan rencana Pembangunan kabupaten Majalengka, Beliau ingin menjadikan Majalengka menjadi sebuah kota bukan Desa yang besar, Beliau memaparkan berbagai Rencana pembangunan, tata letak kota dari pemukiman, perkantoran, pusat perbelanjaan, taman kota hingga pembangunan wisata sejarah dan bahkan di paparkan pula Rencana pembangunan Bandara dan berbagai sarana Pendukungnya tanpa mengesampingkan berbagai kepentingan masyarakat sekitarnya.
Pada kesempatan tersebut saya berkesempatan berdialog dengan beliau, saya bertanya, "Bagaimanakah cara menanamkan kecintaan siswa majalengka terhadap Majalengkanya itu sendiri?"
Beliau menjawab, "Itulah salahsatu tugas sodara sebagai guru untuk menanamkan kecintaan para siswa terhadap daerahnya itu sendiri, yang salah sodara sendiri, kenapa kalau Study Tour harus keluar kota bahkan keluar provinsi."
Kurang lebih begitulah penggalan dalam dialog tersebut. Wah......kebakaran jenggot juga nih.. waktu beliau berkata "Kenapa harus Study Tour keluar kota bahkan keluar Provinsi". Apa yang di ungkapkan beliau memang benar bahwa selaku pendidik maka tugas kita lah untuk menanamkan kecintaan terhadap daerahnya kepada siswa terlebih lagi pola pendidikan kontekstual yang tengah diterapkan, maka Guru ataupun organisasi-organisasi guru seperti MGMP pelajaran apapun harus benar-benar memiliki visi terhadap daerahnya atau bahkan perlu ada muatan lokal secara khusus membahas budaya daerahnya.
Guru memiliki peran penting namun bukan satu-satunya aktor dalam meningkatkan pengetahuan dan kecintaan siswa terhadap daerahnya, melainkan tanggung jawab bersama sehingga visi tersebut tercapai lebih mudah dengan cara melakukan sesuatu sesuai kemampuan, keahlian dan bidang pekerjaannya setelah memiliki visi yang sama. Pendidik bekerjasama dengan pihak-pihak terkait menyusun dan kemudian menyampaikannya pada siswa, Pemerintah melakukan infentarisasi dan perbaikan sarana dan prasarana nya serta berbagai pendukungnya melalui OPD-OPD yang membidanginya, Atlit dengan prestasinya, Seniman menyampaikan dengan lagu / tari / barang seninya, Photografer dengan photo-photonya, Jurnalis dengan tulisannya, Bloger dengan Blognya.

Artikel Serupa



Silahkan tanggapi Artikel Refleksi Budaya Majalengka. Semoga bermanfaat 4 komentar sampai saat ini. Silahkan tambahkan tanggapan Anda

Post a Comment