Monday, August 2, 2010

Final Piala Indonesia 2010 : Jimmy vs Alex

Pertandingan final Piala Indonesia di Manahan, Solo, Minggu, 1 Agustus 2010, menarik perhatian public sepak bola nasional. Dalam 5 kali penyelenggaraannya hanya Arema dan SFC yang menjadi Juara, kali ini mereka bertemu di final.

Pertandingan yang disaksikan oleh mayoritas supporter Arema Indonesia ini berjalan dengan baik, penonton tertib, kepemimpinan wasit Jimmy Napitupulu pun tidak ada masalah. Namun setelah babak I selesai, Pertandingan babak kedua tidak bisa dimulai karena Kapolda Jawa Tengah Irjen (Pol) Alex Bambang Riatmodjo meminta wasit Jimmy Napitupulu diganti.



"Wasitnya tolong diganti. Kalau tidak bisa saya akan bubarkan pertandingan," kata Alex kepada inspektur pertandingan.

Inspektur pertandingan belum bisa mengambil keputusan. Karena memang pihak keamanan tak bisa serta-merta meminta wasit untuk diganti.
"Orang PSSI boleh pulang ke Jakarta. Tapi keamanan urusan Kapolda," kata Alex Bambang.

Menanggapi hal ini, Presiden Direktur PT Liga Andi Darussalam Tabussala menilai tidak ada yang salah dengan sikap kapolda.

"Saya tidak menganggap ini sebagai bentuk intervensi. Beliau peduli dengan kondisi sepakbola Indonesia. Saya berterima kasih karena setelah kami berikan pengertian soal peraturan sepakbola, beliau akhirnya bisa memahami. Kita bersyukur pertandingan ini bisa selesai," kata Andi usai pertandingan.

Namun berbeda dengan pendapat komentator dan pengamat bola nasional
"Intervensi kapolda sangat berlebihan cenderung kebablasan. Harusnya dalam sebuah pertandingan tidak ada yang boleh mengatur jalannya laga kecuali wasit," kata Kusnaeni.

Bung Kus menilai apa yang dilakukan Alex Bambang dipengaruhi oleh kredibilitas PSSI yang lemah.
"Kredibilitas PSSI harus diperkuat agar polisi tak ikut campur soal pertandingan," kata Kusnaeni.

Di tempat yang berbeda Gita suwondo berpendapat serupa
"Jika wasit berbuat salah seperti di Piala Dunia ketika gol Lampard (ke gawang Jerman) tidak disahkan, maka wasit baru bisa dinilai dan kemudian diberikan sanksi setelah pertandingan selesai," ujar Gita.

Lalu bagaimana Jimmy menanggapi kejadian ini? Berikut petikan wawancara dengan salah satu wasit terbaik Indonesia tersebut.

Apa sebenarnya yang diinginkan Kapolda Jateng kepada Anda?
Dia (Kapolda Jateng, Alex B Riatmodjo) hanya mengatakan wasit Jimmy harus diganti. Sekarang pengawas pertandingan tidak bisa mengganti saya. Itu peraturan.

Lantas siapa yang berhak mengganti Anda?
Yang berhak mengganti wasit itu adalah wasit itu sendiri. Kalau saya tidak sanggup lagi, kalau saya pincang, saya keram, atau saya sakit perut dengan pemeriksaan dari dokter dan ada surat dari dokter yang mengatakan saya perlu diganti, baru saya boleh diganti. Selama masih mampu memimpin pertandingan tidak seorangpun yang bisa mengganti wasit termasuk presiden.

Jangankan presiden, masuk ke dalam lapangan tanpa seizin saya pun tidak boleh. Itu sebabnya, BLI (PT Liga Indonesia) pun tidak bisa ikut campur, tidak bisa intervensi saya. Pengawas pertandingan juga tidak berhak mengganti saya.

Bagaimana kalau seandainya Anda sampai diganti?
Kalau saya sampai saya diganti saya akan lapor FIFA. Betul, saya akan lapor FIFA karena di sini saya bisa. Saya akan lapor AFC, saya akan lapor FIFA karena saya tidak cedera tidak sakit tapi diganti.

Apakah PP sempat meminta kepada anda agar diganti?
Nggak. PP (Pengawas Pertandingan) hanya menanyakan apakah kau masih siap? Saya jawab siap. "Kalau begitu lanjutkan, saya dukung kau," kata PP.

Setelah itu ada perundingan antara BLI (PT Liga Indonsia), Kapolda, dan Komite wasit. Kemudian ditanyakan bagaimana solusinya. Wasit lalu dipanggil.

Setelah itu apa yang terjadi?
Kapolda mengatakan kepada saya? "Apakah anda bisa memimpin lebih baik lagi di babak kedua?" Trus saya tanya, "Kesalahan saya apa pak?" Katanya, "Kamu tadi tidak lihat kalau pemain nomor sembilan mendorong wajah salah satu lawannya."

Lalu saya jawab, "Kalau saya lihat pasti saya hukum." Saya manusia. Selagi saya tidak lihat saya tidak tahu apa yang saya tidak lihat. Oke itu satu. Sekarang giliran saya yang bicara. Piala Dunia antara Jerman lawan Inggris. Inggris membuat gol tapi tidak disahkan oleh wasit. Diganti nggak wasitnya? Ada polisi intervensi? Tidak ada!

Kapolda mengatakan di hadapan televisi nasional, kalau anda bersedia memperbaiki kekeliruan di babak pertama. Apakah ada pembicaraan seperti itu?

Saya tidak bilang memperbaiki kekeliruan tapi saya bilang akan memperbaiki penampilan dan performa saya. Kalau saya keliru, berarti saya tahu dong kalau saya salah.

Apakah anda merasa diintervensi?
Kalau saya merasa tidak diintervensi kenapa Kapolda meminta saya diganti? Tapi saya tidak mau. Anda-anda, saya-saya. Selagi dalam pertandingan sepakbola dan saya memimpin saya tidak akan mau diganti. Saya profesional dalam menjalankan tugas saya.

Apakah anda terbebani dengan kejadian ini?
Tidak ada. Saya tidak terpengaruh dengan orang di luar. Yang penting saya konsentrasi di dalam lapangan. Mau apa kata suporter di luar, saya tidak perduli. Saya adalah Jimmy.

Apa kejadian seperti ini pantas dalam sepakbola?
Tidak boleh. Saya katakan ini tidak sehat. Pertandingan ada aturannya sendiri. Kita kenal hukum. Dalam hukum juga dikenal lex specialis derogat lex generalis.

Bahwa peraturan khusus tidak boleh di bawa ke peraturan umum. Dalam sepakbola sudah ada aturannya. Pemain salah, kartu kuning, kartu merah. Dilanjutkan ke Komisi Disiplin kemudian didenda. Itu sudah aturannya.

Pertandingan kemudian dapat dilanjutkan dan berkesudahan 2 – 1 untuk kemenangan sang juara bertahan Sriwijaya FC, pesta kemenangan yang sempat ternoda ini pun disayangkan oleh Rahmad Darmawan pelatih SFC yang memberikan kado manis untuk perpisahannya itu.

"Tadi kondisi yang tidak mengenakkan. Tapi kita bersyukur hasilnya kami bisa mempertahankan gelar," kata Rahmad.

Sementara itu Robert Rene Albert menyesalkan timnya yang harus bertarung dengan 10 pemain dalam laga ini.

"Seandainya kami bermain dengan 11 pemain, kami juga bisa mengimbangi Sriwijaya FC," kata Robert dalam jumpa pers usai pertandingan.

"Sebelumnya kami juga bermain dengan 10 pemain saat lawan Persib, dan kami kalah. Selamat buat Sriwijaya FC yang berhasil jadi juara. Mereka memang tim paling kuat pada turnamen ini," tambahnya.

Dia pun menyesalkan insiden tersebut terjadi di Final Piala Indonesia 2010 dan dia berharap kita belajar dari insiden ini.

Tulisan ini saya ambil dari beberapa posting di VIVAnews dengan beberapa tambahan narasi seperlunya, saya pecinta PERSIB Bandung tapi dimata saya kedua tim tersebut layak menjadi juara, salam hangat untuk pendukung SFC dan Arema Indonesia, semua pendukung mengiginkan Timnya jadi Juara Sejati tapi hanya ada satu tempat untuk Juara. Tetap berjuang, tetap semangat tanpa permusuhan dan perpecahan,, Ingat bahwa kita berbeda tapi tetap satu. INDONESIA.

Artikel Serupa



Silahkan tanggapi Artikel Final Piala Indonesia 2010 : Jimmy vs Alex. Semoga bermanfaat 2 komentar sampai saat ini. Silahkan tambahkan tanggapan Anda

Post a Comment